belajar-dari-tukang-batu

Tukang Batu

Namanya Pak Rono, dia seorang pekerja keras. Dahulu, ia adalah pegawai pabrik. Karena kecelakaan kerja, ia kehilangan penglihatannya. Sekarang rutinitasnya sehari-hari adalah sebagai pemecah batu bata sisa di depan toko bangunan, yang terletak di sekitaran Cipinang. Tubuhnya kecil, tetapi tenaga dan daya juangnya hebat. Ia dapat memecahkan sisa-sisa batu bata yang sudah tak terpakai itu menjadi serpihan pasir hingga berkarung-karung banyaknya. Nanti, karung pasirnya itu dibeli kembali oleh toko bangunan sebagai bahan pencampur adukan semen. Ya, ia menjual hasil karyanya. Pak Rono anti meminta dan mengemis.

Suamiku mengenal beliau sejak remaja. Kekagumannya pada sosok Pak Rono tidak hanya sebatas perjuangannya dalam menghadapi cobaan hidup, tetapi juga pada keshalehannya. Walaupun ia tak dapat melihat dan bekerja keras sepanjang hari, tetapi sholatnya tepat waktu dan selalu berjamaah di masjid.

Kemarin aku ikut bersilaturahmi ke tempat bekerja Pak Rono. “Pabrik batu” miliknya ada di sudut jalan mengarah ke jalan raya. Ada rasa iba melihat kondisi yang tersaji di depan mataku. Kasihan melihat seorang lelaki yang sudah tidak muda lagi, berjuang untuk terus hidup dan menghidupi keluarganya. Ditambah lagi dengan kekurangan pada fisiknya. Hampir menangis aku, ketika memperhatikan ia sangat berusaha menajamkan pendengarannya untuk dapat mengenali kami yang datang.

Pak Rono terlihat senang dikunjungi. Senyum pun tak pernah henti terkembang di wajah penuh peluh itu. Doa-doa terbaik terus ia panjatkan untuk kami. Nasihat-nasihat dan kata pujian kepada Sang Pencipta, serasa tak cukup ia sampaikan dalam perbincangan di pagi hari itu.

Sekarang aku tau rahasianya bertahan hidup. Rasa syukurnya melebihi segala permasalahan hidupnya. Rasa syukur itulah yang membuat hidupnya penuh berkah. Ketika indera penglihatannya diambil oleh Yang Memiliki, ia malah bersyukur, sekarang bisa bekerja yang bebas waktunya. Bisa solat di masjid berjamaah kapanpun ia mau. Ketika penantian 30 tahun mendambakan keturunan belum diijabah, ia masih berprasangka baik bahwa Allah masih mempersiapkan dirinya dan istri untuk menjadi sepasang orang tua. Ketika harta dan gemerlap dunia tak bersahabat dengannya, ia asyik berbagi dengan anak-anak asuh yatim piatu di sekitarnya.

Ia mengatakan bahwa Allah Maha Kaya. Kalau kita bekerja Lillahi ta’ala untuk beribadah, nanti Allah yang akan memberi rizki. “Ya, seperti hari ini, pasti ada saja rezeki yang Allah bagi saya” begitu katanya. Uang sedekah orang-orang kepada dirinya, tak dimakan seorang diri. Ia masih memikirkan untuk berbagi, bersedekah, beramal untuk bekalnya kelak di akherat. Karenanya, dia menyantuni anak-anak asuh. Mungkin Allah belum menjadikannya seorang ayah dari anak yang dilahirkan oleh istri beliau. Tapi, kalau tidak salah dengar, anak asuhnya ada 30 orang. Jumlahnya genap seperti tahun-tahun yang dilewatinya untuk menantikan keturunan. *Mashaallaah*

Mengenal mahluk ciptaan Allah ini membuat diriku serasa kerdil. Seperti tak tau bersyukur diri ini, mengingat masih sering mengeluh tentang dunia. Jadi malu hati ini, yang sering menganggap Allah tidak adil membagikan anak keturunan. Tertampar habis-habisan rasanya bila mengingat diri sering disibukan oleh dunia sehingga lalai dalam mengerjakan solat. Padahal fisik sempurna, usia belum menua, ilmu berlimpah. Mengapa amalku belum seberapa dibandingkan Pak Rono? Apa yang salah?…

Duhai Pemilik Jiwa, ampuni aku yang sering lalai dan kurang bersyukur ini…..

 

Semoga Allah swt memuliakan hidup Pak Rono dan keluarganya..aaamiiin…

(Visited 30 times, 1 visits today)
Share This